UREPORT

Pemilu: Manajemen Konflik Ala Pasar Kemisan

Euforia Pemilu, apa hubungannya dengan fenomena Pasar Kemisan di Kabupaten Blitar?

Senin, 6 April 2009, 11:01 Bayu Gunawan
Contoh cara mencontreng dalam Pemilu 2009
Contoh cara mencontreng dalam Pemilu 2009 (Antara/ Yusran Uccang)

VIVAnews - Pemilu diagendakan 9 April 2009. Tiga hari lagi dari sekarang. Menjelang perhelatan besar yang diistilahkan sebagai pesta demokrasi, banyak hal lama yang dimunculkan kembali dalam wajah baru.

Barang-barang lama dengan wajah baru itu antara lain mobilisasi massa, bagi-bagi kaos dan amplop-tentunya berisi duit untuk menarik orang datang mengikuti kampanye.

Perang iklan di media massa elektronik maupun cetak juga semakin gencar dilakukan. Partai dan caleg berkantong tebal menguasai slot prime time media elektronik, dan membeli halaman khusus di media cetak berskala nasional bertiras besar dan media lokal bertiras pas-pasan.

Menjelang pelaksanaan pemilu juga semakin banyak wajah baru yang sebelumnya tidak kita kenal, justru mau-maunya mendekati kita dengan berbagai polah dan senyum ramah, serta tak ketinggalan janji-janji yang seringkali muluk dan sulit diperasionalkan.

Ramai, riuh rendah, colorful, menarik , atau justru membosankan ? Entah apa dan bagaimana lagi harus menyebut euforia ini. Hal seperti ini selalu dan terus kita alami setiap lima tahun. Hampir sama dan tidak banyak yang berubah. Ya, tetapi itulah yang ada. Dinikmati saja!

Melihat dan mengalami euforia semacam ini, mengingatkan saya kepada kenangan masa kecil waktu masih tinggal di sebuah desa kecil di kabupaten Blitar. Saya ingat pasar Kemisan. Apa hubungannya dengan pemilu?

Bagi saya ada dan ada yang bisa dipelajari dari pasar kemisan. Pasar Kemisan adalah pasar tradisional yang ada hanya pada hari Kamis. Satu hari sebelum hari itu, suasana sangat ramai.

“Isu” yang dijadikan pokok pembicaraan sepanjang Rabu adalah apa yang akan terjadi, walaupun dikira-kira, pada Kamis. Rabu bisa dikatakan hari warming up. Persis seperti yang kita rasakan belakangan ini.

Ketika Kamis tiba, suasana menjadi lebih ramai dan semarak. Banyak pedagang dari luar desa yang berdatangan membawa aneka dagangan terutama hewan ternak. Calon pembeli pun berdatangan dengan membawa pundi-pundi dan agendanya masing-masing. Tegur sapa ramah juga saling dilontarkan. Kadang-kadang ada sedikit joke pencerah suasana.

Namun juga, seringkali ada sedikit “adu urat leher” karena berbeda pandangan soal kualitas barang yang dijual dan akan dibeli namun semuanya dilakukan dengan penuh kesantunan khas desa.

Cair dan mengalir situasinya walaupun sebenarnya kita sedang berada di sebuah pasar hewan yang disesaki pedagang dan pembeli. Konflik-konflik kecil sesekali ada tetapi tidak berujung dendam dan pertikaian berkepanjangan. Semua selesai dengan selesainya jam pasar Kemisan.

Analogi pasar Kemisan ini saya pakai bukan dengan maksud untuk menyamakan pemilu dengan pasar Kemisan yang notabene adalah pasar hewan. Tidak dan bukan sama sekali. Yang ingin saya katakan hanyalah ada sesuatu yang bisa kita pelajari dari suasana dan interaksi di pasar Kemisan yang “ndeso” banget.

Manajemen perbedaan. Pasar Kemisan mampu me-manage perbedaan-perbedaan yang ada, yang dimiliki oleh para pedagang yang berbeda latar belakang dan tujuannya, sehingga mampu menekan potensi konflik. Kunci manajemen konflik ala pasar Kemisan yang “ndeso” banget adalah kesantunan.

Strategi manajemen konflik ndeso ala pasar Kemisan bisa diaplikasikan untuk mengelola potensi konflik yang bisa timbul sebagai ekses dari pemilu. Pemilu, diakui atau tidak, pada satu sisi diharapkan bisa mempersatukan bangsa, namun di sisi yang lain juga berpotensi menimbulkan konflik berkepanjangan yang bisa membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Harus diakui bahwa sudah ada perbedaan sebanyak partai peserta pemilu. Anggap saja satu partai mewakili satu kepentingan dan aspirasi maka sebanyak itu atau bahkan lebih banyak juga perbedaan yang ada yang harus dikelola secara arif.

Manajemen konflik berbasis kesantunan ala pasar Kemisan adalah salah satu dan bukan satu-satunya cara untuk meminimalkan manifestasi konflik dalam bentuk kekerasan.

Pendekatan kesantunan ala pasar Kemisan saya rasakan juga bisa mengajarkan budaya hormat dan menghormati perbedaan. Di pasar Kemisan, orang boleh ngomong apa saja tentang hewan yang dijual. Tidak hanya harganya tetapi juga mutunya. Orang boleh melakukan strategi marketing apa saja supaya produknya laku.

Namun begitu, di pasar ini orang juga bebas mengomentari, menawar bahkan menolak kualitas dan hewan yang diperdagangkan. Kadang ada yang “sakit hati” karena ditolak. Tapi semua “sakit hati” akibat penolakan selesai dengan selesainya jam pasar Kemisan.

Kalau saja, pendekatan kesantunan dan bukan menang-menangan bisa diterapkan dalam kehidupan politik di negeri ini, perbedaan aspirasi politik, kepentingan dan strategi walaupun menimbulkan gesekan tidak akan berekses menjadi kekerasan baik secara fisik maupun verbal.
Perbedaan-perbedaan yang ada harus selesai setelah hasil pemilu diumumkan, daftar caleg diumumkan, dan kepala negara dilantik .

Selesainya perbedaan ini bukan berarti tidak diberikan keleluasaan kepada kelompok yang memutuskan diri untuk menjadi oposisi. Oposisi boleh dan diperlukan sepanjang timbulnya partai atau kelompok oposisi bukan karena sakit hati. Oposisi perlu dan diperlukan untuk mengontrol kerja pemerintah secara proporsional.

Satu yang masih tertinggal dari pasar Kemisan adalah pengajaran kesatuan. Orang yang berbeda latar belakang dan tujuannya , bisa bersatu dan kembali menjadi anggota masyarakat dan bersama-sama membangun desanya dengan memandang perbedaan sebagai warna yang indah.

Tak menarik memang kalau hanya ada satu warna. Semoga saja, dari pasar Kemisan yang ndeso banget kita bisa belajar memandang diri kita sebagai sebuah bangsa dalam arti yang sepenuhnya serta memandang pemilu sebagai ajang pemersatu bukan pemecah belah sekalipun kita mungkin berlainan pandangan dan haluan politik.

Ada 40 lebih partai peserta pemilu 2009. Ada paling tidak lebih dari 40 perbedaan. Tetapi kalau perbedaan-perbedaan itu dipandang sebagai warna yang indah bukankah akan jauh lebih baik.

Seperti pelangi. Dan, kalau perbedaan itu dikelola dengan pendekatan kesantunan ndeso sebagai dasarnya dan pendekatan-pendekatan lainnya yang manusiawi niscaya perbedaan justru menjadi sebuah kekuatan bukan sebaliknya menjadi bibit perpecahan dan permusuhan.

Biarkan ada lebih dari 40 perbedaan tetapi hanya ada satu pemilu dan satu bangsa. Biarkan ada 40 lebih perbedaan tetapi hanya ada satu kesantunan sebagai bangsa. Yang ndeso tak selamanya tak berarti untuk yang “kutho”. (bayugunawan@gmail.com)

• VIVAnews

© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
TENTANG U-REPORT
Semua isi materi baik berupa teks, foto dan video yang dimuat oleh U Report adalah tanggung jawab pengirim sepenuhnya. Redaksi berhak mengedit materi sepanjang tidak mengubah isi dan substansi.

Kami adalah portal berita, dan melalui kanal ini, ingin mengajak anda terlibat dalam proses penciptaan berita. Peristiwa terjadi setiap saat, dan karena itu pasti lebih banyak berita di sekitar kita dari apa yang terlihat di media, baik cetak maupun elektronik.

Anda boleh berbagi cerita yang tak biasanya kita baca atau tonton. Cerita yang kuat, menarik, penting, dan bersifat mendesak dari anda, sangat mungkin menjadi salah satu headline di VIVAnews.

Selamat berbagi cerita.