UREPORT

Memaknai Hutan dalam Seuntai Kalung

KKI Warsi, Greenpeace dan Walhi mengadakan kampanye untuk penyelamatan kawasan hutan.

Kamis, 14 Juni 2012, 17:01 Elviza Diana
Kalung sebalik sumpah khas orang rimba.
Kalung sebalik sumpah khas orang rimba. (Heriyadi Ashari)

VIVAnews - KKI Warsi, Greenpeace dan Walhi mengadakan kampanye untuk penyelamatan kawasan hutan. Mereka melibatkan Komunitas Anak Rimba saat melakukan kampanyenya ke beberapa sekolah-sekolah.

Dicky Kurniawan, selaku Manajer Kebijakan dan Advokasi KKI Warsi, menyebutkan, bahwa kegiatan yang berlangsung selama 5 hari ini akan mengunjungi beberapa sekolah, pameran foto, workshop, sepeda santai hingga beberapa perlombaan yang melibatkan anak-anak sekolah.

"Kita sengaja mengajak langsung anak-anak rimba ini agar mereka bisa langsung bercerita mengenai kehidupannya, dan mengajak para remaja lainnya untuk lebih dekat dengan hutan dan dengan kehidupan anak rimba," kata Dicky.

Para siswa sekolah sangat tertarik dengan kampanye ini, ditambah lagi hadirnya anak rimba sebagai tamu undangan. Banyak siswa yang menanyakan tentang kondisi hutan yang semakin rusak saat ini, dan apakah orang rimba memiliki upaya dalam penyelamatan hutan kembali khususnya di sekitar kawasan hidup mereka?

Salah satu anak rimba yang bernama Begendang menjelaskan, bahwa upaya yang dilakukan adalah dengan mengajak beberapa anak sekolah di Kabupaten Sarolangun untuk melakukan penanaman kembali lahan yang sudah ditebangi dengan berbagai jenis tanaman kayu, seperti, meranti, surian dan bulian.

Di acara ini, Begendang yang merupakan anak rimba yang hidup di Taman Nasional Bukit Duabelas, memamerkan kalung "Sebalik Sumpah" yang merupakan kalung khas orang rimba.

Kalung ini berasal dari sebuah pohon yang dikenal dengan nama sebalik sumpah. Tanaman ini merupakan sejenis tanaman pohon keras yang menghasilkan buah-buah dan di dalam buah itu terdapat biji-biji sebalik sumpah.

Kalung Sebalik Sumpah atau yang dikenal juga dengan sebutan kalung sebelik sumpah merupakan jenis kalung yang rata-rata dipakai oleh anggota kelompok pada Komunitas Orang Rimba. Bagi orang rimba kalung ini dipercaya dapat digunakan penangkal bala.

Namun, sekarang tanaman sebalik sumpah sudah mulai jarang ditemui. Ini dikarenakan banyak penebangan pohon. "Sekarang sulit sekali mendapat buah sebalik sumpah, karena pohonnya semakin jarang ditemukan. Pohon ini hanya akan tumbuh dalam kondisi hutan yang baik," kata Begendang.

Begendang menambahkan, orang rimba mengajak beberapa anak sekolah yang tergabung dalam sahabat bukit 12 untuk melakukan upaya penanaman kembali lahan. Sehingga tanaman sebalik sumpah bisa kembali tumbuh di kawasan hutan tempat tinggalnya.

• VIVAnews

© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
TIPS
TENTANG U-REPORT
Semua isi materi baik berupa teks, foto dan video yang dimuat oleh U Report adalah tanggung jawab pengirim sepenuhnya. Redaksi berhak mengedit materi sepanjang tidak mengubah isi dan substansi.

Kami adalah portal berita, dan melalui kanal ini, ingin mengajak anda terlibat dalam proses penciptaan berita. Peristiwa terjadi setiap saat, dan karena itu pasti lebih banyak berita di sekitar kita dari apa yang terlihat di media, baik cetak maupun elektronik.

Anda boleh berbagi cerita yang tak biasanya kita baca atau tonton. Cerita yang kuat, menarik, penting, dan bersifat mendesak dari anda, sangat mungkin menjadi salah satu headline di VIVAnews.

Selamat berbagi cerita.