UREPORT

Menemukan Pusaka Dalam Jiwa

Renungan Waisak, ditulis dari Lembaga Pemasyarakatan Tangerang.

Selasa, 17 Mei 2011, 15:10 Krisno Abiyanto Soekarno
Patung Buddha Sakyamuni
Patung Buddha Sakyamuni  

BELUM lama ini dua peristiwa yang mengenaskan terjadi secara beruntun di sekitar kita. Pembunuhan sepasang suami istri di kota Medan yang dipicu oleh persaingan bisnis dan pembantaian sadis 4 anggota keluarga di Binjai dengan penyebab sepele, charger HP! Peristiwa demi peristiwa yang menyebabkan jatuhnya korban silih berganti menghiasi berita baik di media cetak maupun elektronik. Belum lagi teror bom yang dilakukan oleh generasi baru teroris yang bahkan telah menjadikan Indonesia sebagai medan perang. Kekerasan, kebencian dan radikalisme tumbuh dengan gejala yang semakin meningkat, telah menimbulkan kecemasan. Kita jadi bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diri dan masyarakat di sekeliling kita. Mengapa kita menjadi begitu mudah menjadi pemarah, bertindak anarkis, dan kering dari nilai-nilai kemanusiaan?

Sebagai umat beragama Buddha, kiranya pertanyaan tersebut dapat kita renungkan lebih mendalam, terlebih lagi kita tengah bersama-sama melaksanakan Hari Raya Waisak. Makna apa yang dapat kita gali dari ketiga peristiwa agung dalam perjalanan hidup Sang Buddha—kelahiran,  pencerahan dan Parinirvana—sekaligus menemukan nilai-nilai yang dapat memimpin bathin agar dapat kembali ke “jalan” yang telah ditunjukkan-Nya. Pemikiran apa yang dapat kita sumbangkan dan falsafah hidup yang bagaimana seharusnya kita laksanakan agar dendam, kebencian, dan mimpi semu memiliki kekayaan harta benda dapat diredam.

Kelahiran dan Pengembaraan

Sebagaimana kita ketahui bersama, Siddharta Gautama yang lahir sekitar 2.500 tahun lalu di India, adalah seorang putra mahkota dari sebuah kerajaan yang terletak di kaki gunung Himalaya, putra dari Raja Shuddhodana, penguasa suku bangsa Shakya. Ibunya, Ratu Maya, melahirkan bayi yang diramalkan akan menjadi penguasa dunia itu di Taman Lumbini (lokasinya kini disebut desa Paderia di Selatan Nepal).  Ibu kota kerajaan yang penduduknya sebagian besar hidup dari pertanian dan peternakan itu bernama Kapilavastu. Ibundanya meninggal dunia 7 hari setelah kelahiran Siddharta, yang selanjutnya bibinya—Mahaprajapati Gautami—membantu membesarkan Nya. Siddharta Gautama menikahi Yashodara (seorang wanita ningrat) dan memberinya seorang putra, Rahula.

Meskipun hidupnya dikelilingi kemewahan berlimpah, Siddharta tumbuh sebagai pemuda yang intelek dan berperangai halus serta memiliki kegemaran akan hal-hal yang menyangkut makna kehidupan dan kebenaran abadi. Sifat nya yang introspektif membuat dirinya tertarik dengan kehidupan keagamaan dibandingkan dengan kehidupan duniawi.

Motif kepergian Siddharta dari istana dipicu oleh sebuah momen tak terduga ketika dirinya diberi kesempatan untuk tamasya keluar dari Kapilavastu. Didampingi kusirnya yang setia, Channa, secara beruntun Beliau bertemu dengan empat kejadian di keempat pintu gerbang istana—dikemudian hari dikenal sebagai 4 perjumpaan—yang semakin meneguhkan tekadnya untuk memasuki dunia spiritual. Perjumpaannya dengan derita yang dialami seorang lanjut usia, orang yang sedang sakit, kematian dan  kelahiran—dikemudian hari dikenal sebagai 4 penderitaan—menggambarkan problema mendasar dari eksistensi umat manusia. Keempat penderitaan ini ditambah 4 penderitaan lain(menjadi 8 penderitaan) yakni: (1) penderitaan berpisah dengan  yang dicintai, (2) penderitaan bertemu dengan orang yang tidak kita sukai; (3) penderitaan karena tidak tercapainya keinginan; dan (4) penderitaan karena ketidak seimbangan lima unsur (panca-skandas).
 
Pencerahan dan Pembabaran Ajaran

Tekad Siddharta melepaskan kehidupan duniawi ditandai dengan peletakan jabatan sebagai pangeran dengan segala gelar kehormatan dan resmi menjadi pencari kebenaran. Siddharta pergi menuju Rajagriha, ibukota dari  kerajaaan Magadha untuk belajar kepada dua guru meditasi terkenal saat itu, Alara Kalama dan Uddaka Ramaputta. Beliau cepat menguasai meditasi namun tidak merasa puas. Kedua guru tersebut tidak dapat membimbingnya dalam menemukan jawaban atas apa yang dipikirkan-Nya: bagaimana mengatasi penderitaan. Akhirnya, Siddharta meninggalkan ke dua guru tersebut dan pergi menuju Uruvela diluar kota Gaya yang berada di sebelah selatan Rajagiha. Di tepi sungai Nairanjana Beliau memulai sendiri kehidupan asketik yang bertumpu pada berbagai jenis praktik pertapaan yang berat.

Laku tapa brata ini dijalankan selama 6 tahun, namun demikian tetap tidak dapat memuaskan diri Nya. Akhirnya, Beliau menolak kehidupan pertapaan asketik yang sia-sia tersebut, dan mencoba secara  bertahap memulihkan kembali kesehatan tubuhnya yang gering. Di saat itulah, ia menerima air susu kedelai dari Sujata, gadis desa putri dari pemilik tanah setempat. Siddharta pulih dan duduk di bawah pohon pippala (assattha)—kemudian dikenal sebagai pohon Bodhi—di dekat kota Gaya, dan mencapai kesadaran Buddha. Di perkirakan usia Beliau saat itu sekitar 30 tahun dan tempat pencapaian kesadaran Buddha tersebut dikenal juga sebagai Bodhgaya. Sejak itu Siddharta diberi gelar “Buddha” artinya “Yang Sadar” dan selanjutnya disebut juga sebagai Buddha Shakyamuni (arif bijaksana dari suku bangsa Shakya).

Di dalam usahanya untuk membabarkan Hukum (Dharma) kepada teman-teman pertapanya, Shakyamuni menuju Taman Rusa (saat ini disebut Sarnath) dekat Varanasi (Benares), Tempat ini juga terkenal dengan sebutan Rishi-patana  “tempat berkumpulnya para pertapa”, dan di sinilah Shakyamuni membabarkan ajaran untuk pertama kalinya  yang disebut  Dhammacakkappavattana Sutta (Sutra Pemutaran Roda Dharma). Sutra ini berisi tentang bekerjanya Empat Kebenaran Mulia yakni kebenaraan pertama menyatakan adanya masalah penderitaan, kebenaran kedua menyatakan penyebab masalah, kebenaran ketiga menyatakan keadaan ideal tanpa masalah, dan kebenaran keempat menyatakan bagaimana keadaan ideal itu dapat dicapai.

Sejak saat itu Shakyamuni Buddha berkeliling ke seluruh India dan selama 50 tahun membabarkan Dharma. Di antaranya Beliau mengunjungi berbagai tempat seperti Benares, Buddhagaya, Rajagriha di Magadha, Shravasti, ibukota Kosala, Vaishali ibukota suku bangsa Vrijji; Kaushambi ,ibukota Vatsa, Gridhrakuta, Saptaparna-guha. Di tempat-tempat inilah banyak pemimpin keagamaan menjadi murid-murid Nya seperti Uruvelva Kashyapa, Nadi Kashyapa, Gaya Kashyapa, Raja Bimbisara, Shariputra, Maudgalyayana, Sanjaya Nanda, Ananda, Aniruddha, Devadatta dan Upali.

Memasuki Nirvana

Shakyamuni Buddha wafat pada usianya 80 tahun di Kushinagara. Di bawah rimbunan pohon Sala, beliau memberikan instruksi terakhir kepada murid-muridnya: “Kalian tidak boleh berpikir bahwa kata-kata gurumu telah tiada dan kalian ditinggalkan tanpa seorang guru. Seluruh ajaran dan Sila yang telah kubabarkan adalah guru mu.”

Ucapan terakhir lainnya yang terkenal adalah: “Oleh karena itu, kalian harus menjadi pelita bagi dirimu. Jadikanlah dirimu sebagai pelindung. Jangan mencari pelindung di luar diri mu sendiri. Peganglah secara teguh Dharma sebagai pelita, dan jangan cari pelindung dimanapun kecuali di dalam diri mu sendiri.”

Peninggalan Shakyamuni diterima oleh suku bangsa Mallas di Kushinagara dan di kremasi tujuh hari kemudian. Abu nya dibagi menjadi delapan bagian dan diberikan kepada Ajatashatru, raja dari Magadha, juga kepada kaum Licchavis dari Vaishali dan suku Shakya  di Kapilavastu. Stupa-stupa dibangun untuk menyemayamkan relik-relik Sang Buddha.

Mengubah Tiga Jalan

Dalam ketiga peristiwa—kelahiran, pencerahan dan memasuki nirvana—dalam hidup Buddha terkandung begitu banyak teladan dan ajaran yang dapat kita petik. Ia merupakan sosok yang bijaksana, penuh cinta dan membimbing agar kita dapat hidup mulia. Seorang pangeran pewaris tahta kerajaan yang kaya raya, yang memilih untuk meninggalkan warisan-Nya demi kebahagiaan seluruh mahluk. Ia tidak melepaskan keduniawian pada usia senja, tetapi dalam usia belia; bukan dalam kemiskinan tapi dalam kelimpahan. Tubuh-Nya menyusut seperti kerangka, karena menjalani hidup pertapaan yang keras hingga di luar ambang batas kemampuan manusia selama enam tahun. Penyiksaan diri yang menyakitkan hanya berakibat melemahnya tubuh dan luruhnya semangat. Ia menjadi yakin bahwa ekstrim penyiksaan diri adalah sia-sia.

Ia akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan sendiri dan di saat memasuki meditasi yang mendalam, diri-Nya mencapai pencerahan di saat purnamasidhi di bawah pohon Bodhi di usia 30 tahun. 

Sosok Buddha adalah seorang manusia yang mencapai puncak tertinggi dalam menemukan Kebahagiaan Sejati yakni menyadari hakikat sejati dari segala sesuatu. Oleh karenanya seluruh mahluk hidup, sama seperti Buddha, memiliki sifat Buddha (benih-benih ke-Buddhaan) dalam dirinya. Dengan demikian, kita semua memiliki potensi ke-Buddhaan dan dapat mencapai Pencerahan. Dalam Saddharma Pundarika Sutra Beliau bersabda : “Aku berprasetya untuk membimbing seluruh umat manusia dapat mencapai kesadaran Buddha sama seperti diri-Ku”.

Inilah pesan Buddha yang sungguh menggembirakan, harta pusaka yang tak ternilai harganya. Beliau menunjukkan jalan dan membimbing kita menemukan harta ini. Namun demikian Beliau mengingatkan bahwa di saat yang sama, diri kita berada dalam kegelapan. Dalam Sutra 12 Hukum Musabab yang Saling Bergantung (patticcasamuppada) diawali dengan kata Avidya; kegelapan bathin (ignorance) yang menyebabkan kita takluk dan tersesat oleh kekuatan ketamakan, kebencian dan kebodohan.

Jalan menuju pencerahan ini adalah dengan membersihkan awan kegelapan bathin (avidya) yang menyelimuti sifat Buddha dalam diri kita. Avidya ditandai dengan bercokolnya tiga racun dari keserakahan, kemarahan dan kebodohan yang dikategorikan sebagai hawa nafsu (klesha).

Hawa nafsu ini adalah penyebab dari segala penderitaan baik jasmani maupun rohani. Hawa nafsu dan penderitaan yang dihasilkannya terhubung oleh karma, yang mengikat kita kepada sumber penderitaan. Hawa nafsu, karma dan penderitaan dalam Buddhisme disebut sebagai “Tiga Jalan”. Disebut jalan karena mereka saling berhubungan dan terdapat jalinan kausalitas diantara mereka. Penderitaan dipenuhi dengan hawa nafsu. Hawa nafsu menyebabkan tindakan yang menciptakan karma buruk. Efek dari karma buruk iini terwujud dalam penderitaan, baik mental maupun fisik, yang pada akhirnya mem buat hawa nafsu semakin berkobar. Hawa nafsu menumbuhkan karma buruk, yang menghasilkan lebih banyak lagi penderitaan, dan begitu seterusnya.   

Oleh karena itu, untuk mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan dan karma buruk menjadi karma baik, seseorang harus mampu mentransformasikan  hawa nafsu. Tidak akan terdapat perubahan positif dari karma seseorang tanpa mengatasi problema hawa nafsu. Dalam Buddhisme, hawa nafsu ini diterjemahkan pula sebagai “ilusi” atau “nafsu”, yang pada intinya mengacu pada pengertian tentang berbagai fungsi mental yang mengganggu kesehatan fisik dan spiritual seseorang.

Dari berbagai macam ilusi, maka Avidya (kegelapan bathin) adalah yang paling mendasar karena ia merupakan asal muasal dari segala hawa nafsu dan yang menghadang seseorang mencapai pencerahan (ketidaktahuan akan adanya sifat Buddha dalam diri). Dengan demikian, perjuangan untuk mengikis avidya akan membawa kita menemukan harta pusaka sesunguhnya. Kita akan terbangun dari kehidupan yang penuh dengan impian semu ini menuju kehidupan yang lebih tinggi yang penuh dengan kebijaksanaan di mana semua mahluk hidup harmonis berdampingan saling mencintai dan tidak membenci.

Tidak dapat disangkal bahwa hawa nafsu membawa penderitaan, namun terlalu sederhana bila kita menganggap seluruhnya buruk. Selama manusia hidup, dirinya terikat dengan hawa nafsu; mereka dibutuhkan demi kelangsungan hidup.

Insting kelaparan akan makanan, tidur dan seks adalah hawa nafsu. Tanpa nafsu, seseorang mati. Karena hawa nafsu, seseorang dapat mempertahankan hidup. Hidup kita dipenuhi dengan hawa nafsu, Meski tanpa harus menghilangkannya, kita dapat memurnikan kehidupan kita dan mencapai pencerahan. Hawa nafsu menyatakan ilusi. Sebaliknya, pencerahan menunjukkan terbangunnya kita pada kebenaran. Ketika kita dapat meningkatkan kehidupan yang lebih tinggi, apa yang tadinya berfungsi untuk menghidupkan hawa nafsu mulai bergerak menghidupkan kesadaran, dan yang tadinya menghasilkan penderitaan berubah menjadi kebahagiaan. Ketika sifat Buddha kita terbangun maka secara alami segala hawa nafsu terarahkan menuju kebahagiaan, memutuskan lingkaran hawa nafsu—karma—penderitaan.

Selamat Hari Waisak!

• VIVAnews

© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
TIPS
TENTANG U-REPORT
Semua isi materi baik berupa teks, foto dan video yang dimuat oleh U Report adalah tanggung jawab pengirim sepenuhnya. Redaksi berhak mengedit materi sepanjang tidak mengubah isi dan substansi.

Kami adalah portal berita, dan melalui kanal ini, ingin mengajak anda terlibat dalam proses penciptaan berita. Peristiwa terjadi setiap saat, dan karena itu pasti lebih banyak berita di sekitar kita dari apa yang terlihat di media, baik cetak maupun elektronik.

Anda boleh berbagi cerita yang tak biasanya kita baca atau tonton. Cerita yang kuat, menarik, penting, dan bersifat mendesak dari anda, sangat mungkin menjadi salah satu headline di VIVAnews.

Selamat berbagi cerita.