Membatik, Tanda Cinta Produk Dalam Negeri
Beragam cara dilakukan untuk mengenalkan siswa mencintai budaya dan seni dalam negeri.
Batik (VIVAnews/Tri Saputro)
VIVAnews - Beragam cara dilakukan untuk mengenalkan siswa mencintai budaya dan seni dalam negeri. Tidak hanya dengan seni tari atau lainnya. Salah satunya seperti yang dilakukan SMP Putri Luqman Al Hakim Hidayatullah Surabaya.
Yakni dengan mengajarkan teknik membatik (4/5). Sekitar 20 anak membuat pola di atas kain putih jenis prima. Para siswa tersebut menggambar berbagai jenis bentuk. Mulai nama mereka masing-masing, gambar burung, serta menggambar gelas.
Siswa menuangkan lilin khusus untuk batik yang telah dipanaskan di atas wajan. Kemudian melekatkannya di atas kain menggunakan canting sesuai dengan alur motif.
Menurut guru kesenian, Ashari, kegiatan ini untuk menanamkan cinta kepada produk dalam negeri. Saat ini siswa masih menggunakan kain jenis prima. Selain prima juga bisa dengan kain jenis katun atau blaco.
“Tapi tidak sekedar cinta, lebih jauh hingga tahap proses membuatnya,” ujar lelaki yang juga pimpinan Sanggar Aksara. Ia menambahkan dalam proses pengenalan ini, siswa dijelaskan tahap-tahap dalam proses membuat batik.
Pertama, nglowong, nerusi, dan isen-isen sebagai tahap akhir pembuatan batik tulis. Untuk media pewarna tidak harus dengan menggunakan lilin, saat ini dengan menggunakan bahan alam pun bisa. “Hanya saja proses cukup lama,” katanya.
Ia juga menjelaskan profesi membatik termasuk pekerjaan yang tidak mudah. Selain harus teliti, kreatif juga harus telaten. “Nah telaten ini yang jadi kuncinya. Harus sabar,” jelasnya.
Salah satu siswi, Attaya Salsabila, mengatakan senang mendapat pengenalan tentang batik tulis ini. Ia jadi mengerti bagaimana alur membuat batik yang kini membanjiri swalayan di Surabaya.
