UREPORT

Pemerintah Subsidi Kompor Listrik

Bantuan kompor listrik bagi pembatik akan membantu pengrajin menurunkan biaya produksi.

Senin, 8 Februari 2010, 11:59
Perajin batik menyelesaikan pembuatan batik tulis khas Tegal.
Perajin batik menyelesaikan pembuatan batik tulis khas Tegal. (ANTARA/R. Rekotomo)

VIVAnews - Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian membagikan sebanyak 100 kompor listrik pengrajin batik dari kebutuhan yang mencapai 200 ribu unit di seluruh Indonesia. Pembagian 100 kompor ini sebagai proyek percontohan subsidi bagi pengrajin batik.

"Sudah ada penemuan kompor listrik seharga Rp 150 ribu per unit dengan biaya listrik hanya Rp 9 ribu per bulan," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat usai membuka Pameran Pesona Kerajinan dan Batik Yogyakarta di Plasa Depperin, Jakarta, Senin, 8 Februari 2010.

Bantuan kompor listrik bagi pembatik, menurutnya, akan membantu pengrajin batik menurunkan biaya produksi. Terutama, dengan program konversi minyak tanah ke gas, pembatik yang selama ini menggunakan minyak tanah kesulitan untuk mendapatkan bahan bakar.

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian Fauzi Aziz menjelaskan, kompor listrik dengan harga Rp 150 ribu per unit tersebut merupakan hasil penemuan Balai Batik dan Kerajinan Yogyakarta.

Biaya produksi pengrajin batik akan lebih bisa ditekan dengan menggunakan listrik, ketimbang menghamburkan modal untuk penggunaan minyak tanah yang mencapai Rp 100 ribu per bulan.

"Kompor listrik ini secara marketing memang harus dilaunching habis-habisan tapi sementara ini jalan terbaik dijual melalui koperasi supaya harga stabil di pengrajin," ujarnya.

Untuk mensubsidi 100 kompor listrik tersebut dibutuhkan setidaknya dana sebanyak Rp 15 juta. Fauzi mengatakan, anggaran subsidi sebanyak Rp 15 juta tersebut akan dialokasikan dari anggaran kementerian.

Sebagai salah satu daerah proyek percontohan, Daerah Istimewa Yogyakarta telah menerapkan penggunaan kompor listrik hampir di semua pembatik.

Sekretaris Daerah Propinsi DI Yogyakarta Tri Harjun Ismaji mengatakan, pembatik di daerahnya menyambut baik penggunaan kompor listrik karena selain murah juga tidak menimbulkan polusi karena lebih bersih.

"Dibandingkan dengan kompor listrik buatan Jerman yang mencapai Rp 1 juta, kompor hasil litbang ini lebih murah dan terjangkau," kata dia.

hadi.suprapto@vivanews.com

• VIVAnews

© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
iwan
31/07/2010
bisa gak di pake buat rumahan irit banget tuh...
Balas   • Laporkan
sarina
30/06/2010
Tolong saya diberikan alamat kalau beli kompor untuk membatik karena saya sangat membutuhkan. Atas bantuannya saya sampaikan banyak terimaksasih.
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
TENTANG U-REPORT
Semua isi materi baik berupa teks, foto dan video yang dimuat oleh U Report adalah tanggung jawab pengirim sepenuhnya. Redaksi berhak mengedit materi sepanjang tidak mengubah isi dan substansi.

Kami adalah portal berita, dan melalui kanal ini, ingin mengajak anda terlibat dalam proses penciptaan berita. Peristiwa terjadi setiap saat, dan karena itu pasti lebih banyak berita di sekitar kita dari apa yang terlihat di media, baik cetak maupun elektronik.

Anda boleh berbagi cerita yang tak biasanya kita baca atau tonton. Cerita yang kuat, menarik, penting, dan bersifat mendesak dari anda, sangat mungkin menjadi salah satu headline di VIVAnews.

Selamat berbagi cerita.
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru