UREPORT

Keberagaman Budaya Bangsa Indonesia

Selamatkan keberagaman budaya Indonesia dengan semangat pancasila dan bhinneka tunggal ika

Kamis, 10 Desember 2009, 14:18 Paula Dewi
Anand Krishna and Maya Muchtar
Anand Krishna and Maya Muchtar (Anand Khrisna and Maya Muchtar)

VIVAnews - Sesuatu yang baru dari Indonesia telah ditawarkan di Melbourne pada gelaran Parliament of the World’s Religions 2009 ketika Anand Krishna dan Maya Safira Muchtar dari Yayasan Anand Ashram mempresentasikan “Mengapresiasi dan Membudayakan Bhinneka Tunggal Ika (Persatuan dalam Keragaman) dan Pancasila untuk mengatasi Radikalisme agama di Indonesia”.

Pada mulanya, Anand Krishna menceritakan sejarah dari Kepulauan dan kearfian lokal Indonesia yang mempunyai kemiripan akar budaya dengan peradaban kuno India dan Asia Tenggara. Pak Krishna juga berbicara tentang Australia dan keterlibatan Raja Kubera dari Astraleh (Australia di masa lampau) dalam keterlibatan cerita epik Ramayana.

Raja Kubera adalah saudara laki-laki dari Raja Ravana (kebalikan dari saudara laki-lakinya yang tidak baik, Kubera adalah raja yang baik). Australia telah menjadi teman yang baik bagi Indonesia untuk millenium ini, dan hal ini seharusnya berlanjut -- walaupun tidak terbatas – dalam memerangi radikalisme beragama bagi perdamaian dan kesejahteraan wilayah.
 
Lalu Anand Krishna secara menyeluruh menjelaskan pentingnya Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam melestarikan keragaman budaya dan agama Indonesia, serta memelihara perdamaian dan harmoni di negara tersebut.

Beliau secara khusus menekankan sila pertama, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, yang menjamin kebebasan baik para pemeluk agama/aliran kepercayaan, maupun tidak, untuk beribadah (ataupun untuk tidak beribadah) sesuai dengan agama/sistem kepercayaan masing-masing.

Lebih lanjut, semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika sebenarnya lebih dari sekedar makna ‘persatuan,’ tapi merupakan apresiasi dari keragaman itu sendiri, melihat keragaman sebagai suatu keindahan daripada sebuah perbedaan belaka.

Anand Krishna juga mengkritisi (kebijakan dan pengaruh) negara-negara petrodollar (seperti Saudi) yang telah mengikis budaya-budaya lokal Indonesia, dan menggantinya dengan budaya-budaya keras yang sama sekali tidak menghormati apresiasi terhadap keragaman.

Hukum Syariat di Aceh adalah salah satu contoh dari pengaruh yang melanggar dari Saudi Arabia, dan fenomena ini sama sekali tidak membantu perdamaian bagi keseluruhan negara. Kebenaran sejarah menceritakan bagaimana Aceh pernah mengalami masa-masa damai ketika diurus oleh para wanita.

Selama pemerintahan empat Sultana Aceh di masa lampau, Aceh mengalami masa-masa kejayaan dan perdamaian, dengan menerima secara terbuka semua orang dari berbagai latar belakang etnis dan kepercayaan yang mengunjungi tanah Aceh.

Pak Krishna lebih lanjut meminta saudara-saudari Muslim untuk memahami bahwa apa yang terjadi di Indonesia bukanlah perang terhadap Islam. Sangatlah penting ketika umat muslim Indonesia tidak salah mengindentifikasi diri mereka sendiri.

Berlawanan dengan kebijakan pemerintah kami, Indonesia tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi sebuah negara Muslim. Tapi Indonesia juga bukanlah sebuah negara sekular. Indonesia adalah, dan akan selalu menjadi sebuah negara spiritual.

Karena itulah, Pak Krishna menegaskan bahwa naiknya data konflik beragama di kepulauan ini sebenarnya tidak ada kaitannya dengan agama. “Apa yang terjadi di Indonesia sekarang ini adalah pertikaian antara para radikal melawan mereka yang mempertahankan budaya Indonesia,” beliau menjelaskan kepada para peserta dari berbagai negara, etnik dan agama/tradisi yang ada di dunia ini, yang memenuhi 100 tempat duduk di ruangan pertemuan ini.

Dan kekuatan di balik semua ini adalah Uang (dan akhirnya Kekuasaan), yang mengalir dari Amerika Serikat dan baru-baru ini juga dari Arab Saudi.

Sebagai tindakan penyeimbang, Anand Krishna menyarankan sebuah seruan bersahabat kepada para pemimpin agama untuk tidak mempromosikan upaya pergantian agama yang dapat menciptakan ketidaksenangan dan keradikalan.

Pak Krishna juga tidak lupa menjelaskan pentingnya Tibet bagi Indonesia. Hubungan antara ke-2 negara sudah terjalin sejak lebih dari seribu tahun yang lalu ketika Dharmakirti Swarnadwipi dari Sriwijaya (sekarang Sumatera) mengajarkan muridnya Asiha dari Tibet teknik Meditasi Tong Len (Terima dan Kasih)

Pembicara ke-2, Saudari Maya Muchtar juga memberikan sudut pandang pada keragaman beragama di Indonesia. “Sayangnya, kata harmoni tidak dipraktekkan sebagaimana mestinya di Indonesia,” katanya. “Jika saya adalah seorang Muslim yang ingin mengucapkan Selamat Natal kepada kaum Kristen, saya tidak dapat melakukan hal itu karena para ulama melarangnya.”

Adalah suatu fakta yang menyedihkan ketika Sdri. Muchtar menjelaskan lebih lanjut bahwa hanya ada 17% kaum radikal di Indonesia. Tapi, mereka sangat vokal dan jumlah mereka semakin bertambah, terutama melalui sekolah-sekolah dan universitas-universitas, serta karena sistem pendidikan Indonesia yang tidak seimbang.

Islam adalah agama yang damai, “salaam” berarti damai. Menjadi seorang wanita muslim, Maya juga menyuarakan keprihatinannya pada kewajiban dan tekanan bagi seorang wanita Indonesia untuk mengenakan kerudung, daripada sesuatu yang seharusnya muncul dari kesadaran. Bila ini diabaikan, maka mereka akan dikucilkan dari masyarakat.

“Tidak ada yang salah ketika seorang wanita ingin mengenakan kerudung, tapi ketika dirinya melakukan hal itu karena diharuskan, atau karena alasan ‘lebih suci dari yang lain’ daripada karena datang dari kesadaran diri, maka hal ini adalah salah,” Maya menegaskan.

Untuk mempromosikan nilai-nilai perdamaian sejati dari Islam, Maya bersama teman-temannya telah membentuk “The Islamic Movement for Non Violence” (Gerakan Islam Anti Kekerasan). Saudari Muchtar juga menjelaskan bahwa bila seseorang tidak menganut salah satu dari 5 agama utama di Indonesia, maka orang itu tidak akan mendapat tempat di negara ini.

“Kita sedang melobi sebuah hukum nasional khusus yang akan melindungi semua agama dan tradisi yang telah ada di dunia ini, sehingga setiap pemeluk dari setiap kepercayaan di dunia ini akan selalu diterima secara resmi di Indonesia dan dilindungi oleh pemerintah.”

Dan kembali pada topik apa saja peranan dari Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam melestarikan keberagaman di Indonesia? Lebih dari sekedar ideologi, Pancasila adalah saripati dari kearifan lokal budaya-budaya yang ada di Indonesia.

Bhinneka Tunggal Ika adalah pengingat bagi kita semua untuk mengapresiasikan keberagaman kita melalui Cinta. Tidak ada cara lain. Cinta, dan kebangkitan dari Pancasila serta Bhinneka Tunggal Ika adalah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan Indonesia dari kehancuran dan memulihkan kembali negara ini seperti yang telah diimpikan oleh para pendiri bangsa ini.

Bila, Dunia Internasional memulai untuk mengapresiasi nilai-nilai universal dari Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, maka kita berharap Indonesia juga akan melakukan hal yang sama.

• VIVAnews

© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
TENTANG U-REPORT
Semua isi materi baik berupa teks, foto dan video yang dimuat oleh U Report adalah tanggung jawab pengirim sepenuhnya. Redaksi berhak mengedit materi sepanjang tidak mengubah isi dan substansi.

Kami adalah portal berita, dan melalui kanal ini, ingin mengajak anda terlibat dalam proses penciptaan berita. Peristiwa terjadi setiap saat, dan karena itu pasti lebih banyak berita di sekitar kita dari apa yang terlihat di media, baik cetak maupun elektronik.

Anda boleh berbagi cerita yang tak biasanya kita baca atau tonton. Cerita yang kuat, menarik, penting, dan bersifat mendesak dari anda, sangat mungkin menjadi salah satu headline di VIVAnews.

Selamat berbagi cerita.